Rabu, 28 Oktober 2015

Hari yang indah untuk memulai sebuah cerita, embun pagi menetes diatas tirai-tirai dedaunan yang menari lembut tertiup angin pagi, suara-suara manusia mulai terdengar setelah semalaman lenyap terkubur balutan kapas putih yang lembut tak teraba oleh  jemari, jalanan mulai ramai di padati mobil-mobil mewah yang mengantarkan pemiliknya untuk memulai aktivitas, truk-truk gandeng mulai marah dengan klakson-klakson yang mendebarkan jajaran buah anggur yang melekat di tubuh manusia yang ada di dekatnya. Semua siswa-siswi mulai dari SD,SMP,SMA sampai Mahasiswa, mulai berduyun-duyun menghampiri wilayah mereka masing-masing, untuk menggebrak sebuah gedung yang telah beberapa jam sepi tak berpenghuni.
            “Sampai kapan sih macet ini akan berhenti, tiap hari begini terus bisa-bisa kita terlambat ke sekolah nie” ujar darah manis yang sudah ngomel-ngomel sejak beberapa menit yang lalu, entah sampai kapan dia akan berhenti megomel,  sudah seperti burung beo, yang lama tidak diberi makan oleh majikanya.
            “Sabar donk Kas, namanya juga kota metropolitan, gak kerenlah kalau gak macet” jawab sesosok manusia yang sudah siap menekan gas mobilnya. Tanpa ada aba-aba dia langsung saja menginjak gas mobilnya dengan kuatnya hingga membuat Kasih terpental ke depan.
            “Sialan loe Don”. Kasih mulai mengomel lagi kepada Donny yang notabennya adalah teman dekat Kasih. Sebenarnya sudah sejak lama Donny menyukai Kasih, dia sangat tertarik dengan kepribadian yang di miliki Kasih, tapi dia tak pernah memiliki keberanian untuk  menumpahkan semua yang ada dilubuk hatinya kepada Kasih.   
                                                                                                                                                          
***Sejak pertama melihat Kasih dia langsung tertarik untuk bisa dekat dengan Kasih, waktu itu sempat ia ingin memberi tahukan semuannya tapi terhalang oleh sebuah keadaan, keadaan yang sebenarnya bisa di handel tapi dia tak ingin mengganggu Kasih. Angin malam bertiup halus di pelabuhan hitam yang amat mengguga mata, bintang berkelip terang  menambah keindahan malam yang awalnya senyap kini berubah menjadi kemilau mutiara di balik timbunan awan hitam, sesosok pria berambut zikjak melangkahkan kakinya kedepan sebuah gerbang yang terkurung rimbunnya pohon-pohon bambu yang tersusun rapi di depan gerbang sebuah rumah yang megah nan eksotis, pria itu memencet bel yang ada di gerbang. Kasih yang kalah itu sedang santai di halaman depan memandangi kilauan bintang, langsung  terpental dari tempat awal di mana dia tertegun anggun.
            “Siapa sih malam-malam datang kayak gak ada waktu lain aja, mana lagi tuh Pak Jono, mau makan gaji buta aja tu orang” sambil berjalan dia terus saja ngomel-ngomel tak jelas, sialnya lagi tu bel masih tetap saja bunyi, apa gak tau ya kalau yang punya rumah ngomel-ngomel terus, ups........ mana mungkin benda mati tau diri, ada-ada saja.
            “Siapa sih gak tau aturan malam-malam gini masih bertamu di rumah orang, ingat waktu donk,” sambil membukakan pintu gerbang yang memapar panjang dihadapannya. “Donny??? Ngapain loe malam-malam datang kesini, kalau ada yang mau di bicarakan besok saja, aku capek  nie,” kurang ajar sih Kasih mengusir orang yang ingin bertamu di rumahnya, tapi itulah dia gak mau kalau apa yang sedang ia kerjakan terganggu dengan hal-hal yang menurutnya tidak penting, tapi justru itu yang bisa membuat Donny kepincut  kepada Kasih, besarnya cinta Donny kepada Kasih tak bisa terukur dengan segala apa yang ada di muka bumi ini, bahkan dia rela melakukan apa saja untuk Kasih.
            “Tega bener si loe Kas, aku uda jauh-jauh datang kesini untuk ketemu sama kamu eh mala kamu usir,” cowok bertampang oriental ini terkulas lesu, mukanya mulai memucat, bibirnya mulai menggigil, telinganya sudah kaku mendengar perkataan wanita yang sangat ia cintai itu. Nyalinya mulai menciut untuk mengungkapkan rasa cintanya kepada Kasih.
            “Cepetan mau ngomong apa, aku capek banget mau tidur nie, aku kasih kamu waktu 5 menit cepet ngomong,”

            “Hmmm…Kas...., sebenernya??,” Donny sangat gugup sekali, tiba-tiba saja badannya menggigil, bulu kuduknya terangkat kuat, semua pori-pori yang yang ada di tubuhnya menganga siap menampung  air keringatnya yang mulai bercucuran, padahal malam ini sangat dingin, tapi Donny malah mengeluarkan keringat yang lumayan deras, dan sialnya lagi Kasih sama sekali tidak  menawarkan Donny untuk minum secangkir  teh  hangat untuk Donny yang sudah sejak tadi menahan haus karna takut kalau dia minum dulu dari rumah bisa-bisa di ngompol di celana saat ingin mengungkapkan cintanya kepada Kasih, boro-boro teh  hangat, dipersilakan masuk saja tidak, memang tidak punya rasa kasihan  tuan rumah yang satu ini, padahal pepatah sudah mengatakan bahwa  tamu adalah raja, ya walau pun pepatah itu bukan untuk tamu melainkan pembeli, ya tapi bisa juga sih di gunakan pepatah yang satu ini.
“Cepetan, ini sudah lebih dari 3 menit, waktu kamu tinggal 1,2 menit lagi, cepetan,” Kasih memburu-buru Donny untuk segera bicara tapi Donny tetap saja gugup dan tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun, “ tet…. Waktu kamu sudah habis, sekarang sebaiknya kamu pulang saja, aku capek banget, kalau ada yang  mau diomongin besok saja deh di sekolah,” 
            Dengan teganya Kasih mengusir Donny yang rela di jadikan kacung semasa SMP dulu, dan kini sampai SMA dia juga rela masuk ke sekolah yang sebenarnya bukan sekolah yang ia inginkan, ia lebih suka masuk STM, Donny sangat suka membongkar-bongkar mesin, memperbaiki benda-benda yang rusak, bahkan karna kecintaannya kepada mesin ia berhasil menciptakan benda-benda yang sederhana menjadi bernilai ekonomis tinggi, prestasinya sangat banyak dibidang mekanika, dia pernah menciptakan robot yang bisa dihandalkan untuk menjaga rumah, robot itu berfungsi apabila ada seseorang yang masuk kewilayah dia berada, dia akan mensensor wajah si tamu dan mengirimkan data sensoran itu ke komputer Donny, jadi Donny bisa tau siapa yang datang, tamu itu tidak diharapkan kedatangannya maka robot itu akan memberikan aliran listrik ke tubuh si tamu, selain bekerja sebagai pendeteksi, robot ini juga bisa dihandalkan untuk menyiram tanaman dan memotong rumput, hanya saja kesempurnaan dari robot itu belum bisa Donny lakukan, hanya tinggal memodifikasi sedikit lagi saja, robot itu akan selesai, tapi sayang ia lebih memilih untuk tidak melanjutkan proyeknya itu karna Kasih tak menyukai hasil karyanya, Kasih sangat benci dengan robot-robot seperti itu karna baginya itu hanyalah mainan anak-anak., dan yang memainkannya juga akan menjadi anak-anak dipandangan Kasih, demi Kasih Donny rela mengubur semua cita-citanya. Donny tidak mau jauh dari Kasih dia pun rela memupuskan impiannya itu, baginya tak ada yang lebih penting selain Kasih, meski Kasih selalu cuek kepadanya. Dengan rasa menyesal  pria yang gaga itu melangkahkan kakinya berbalik arah dari tempat awal dia berdiri, sesekali ia menatap kebelakang berharap Kasih memanggilnya dan merubah pikirannya, tapi sayang wanita yang ia cintai itu berlalu cepat sekali, dan hanya pintu gerbang yang tertata tinggi itu yang bisa ia lihat, karna kesal tak bisa menyatakan cintanya kepada Kasih dia menendang apa saja yang menghalangi jalannya, tanpa sengaja benda yang ia tendang  terkena sepasang kekasih yang sedang duduk berdua-duaan di belakang pepohonan, karna takut Donny lari terbirit-birit dan lenyap seketika dari halaman rumah Kasih. 

Selasa, 27 Oktober 2015

Sampai saat ini aku masih bingung dengan sifat mu
Dulu kamu pergi disaat aku benar-benar telah memberikan hatiku hanya padamu,
Disaat satu cinta hanya untuk mu seorang
Kau menyia-nyiakan cintaku yang hanya satu umtukmu
Kau buatku menunggu hingga bertahun-tahun 
Dan bodohnya, aku masih setia selama itu
Sekarang kau datang lagi memintah hatiku yang dulu
Meminta cinta ku untukmu yang sudah ku buang mati dalam hati
Kau permainkan aku seperti bola yang bisa kau lempar kesana kesini
Dan bodohnya aku, meski menolak akan hadirmu kembali
Tapi hati ini masih mengharap untuk kau kembali
Setelah apa yang kau lakukan dibelakangku
Setelah penghianatan yang kau beri

Minggu, 25 Oktober 2015

GEDUNG HATI

Deru gemuru membakar gedung pencakar langitku
Bertahun-tahun ku bangun dengan daya upayaku
Dengan keringat hangat yang terus bercucuran
Dengan darah yang tak dapat terganti mata uang
  Namun, harapan dan cita harus terkoyak percuma
  Tingginya gedung hati yang ku bangun hancur sudah
  Hanya dengan hitungan menit semua luluh lanta tak tersisa
  Hanya kepingan air mata kepedihan yang mengiringinya
Gedung hati yang kubangun untuk hidupku disuatu masa
Gedung yang ku harap hanya ditinggali satu penghuni
Kini musnah karna ku salah memilih
Dan mencoba memasukkan penghuni baru didalamnya
  Dialah sang perusak cita
  Dialah manusia yang tega menyiksa
  Segala isi gedung hati yang tertata ditubuh ini
  Manusia bermulut seribu
  Mengadu sana dan sini
  Demi keuntungan semata
Kini ku coba membangun kembali
Gedung indah harapan masa depan ini
Meski dengan peluh yang tak ada hentinya
Dengan nafas yang mulai terngengah-ngengah

Kamis, 22 Oktober 2015

Puisi "kisah tak sempurna"

Bila waktu itu tiba
Aku ingin menulis kisah hidup yang biasa
Tak istimewa namun menggetarkan jiwa
Tak terkesan namun kan selalu terkenang

  Sebuah kisah dimana aku harus mengalah
  Demi hidup dan keluarga
  Demi jiwa dan raga
  Mencoba berlari mengejar angan
  Meski terjatuh dalam luka yang dalam

Emosi dan air mata suasana jiwa
Selalu mewarnai kehidupan yang semu dan terhina
Mencoba menaburkan sinar surya
Meski harus sirna dan kecewa

Terbiasa dengan Ini

Dan aku mulai terbiasa dengan ini
Menangis dalam keramaian sekitar
Selalu mencoba mengepakkan sayap yang kumiliki
Namun aku tetap gagal
Aku selalu bertanya dalam rintih
Dapatkah aku bersinar kembali
Memberi setitik terang dalam gelap
Memberi hangat dalam kebekuan
Waktu mengubah semua
Jalan lurus kini berliku
Mematahkan arah yang kutuju
Aku tersesat menuju harapku
Terlambat kusadari
Kini semua telah terjadi
mencoba mengumpulkan puing puing harapan
Anganku terlalu jauh tuk ku kejar
Aku hanya mampu bertahan
Meski tak ku tahu sampai kapan
Mungkin sampai akhir perjalanan