Hari
yang indah untuk memulai sebuah cerita, embun pagi menetes diatas tirai-tirai
dedaunan yang menari lembut tertiup angin pagi, suara-suara manusia mulai
terdengar setelah semalaman lenyap terkubur balutan kapas putih yang lembut tak
teraba oleh jemari, jalanan mulai ramai
di padati mobil-mobil mewah yang mengantarkan pemiliknya untuk memulai
aktivitas, truk-truk gandeng mulai marah dengan klakson-klakson yang
mendebarkan jajaran buah anggur yang melekat di tubuh manusia yang ada di
dekatnya. Semua siswa-siswi mulai dari SD,SMP,SMA sampai Mahasiswa, mulai
berduyun-duyun menghampiri wilayah mereka masing-masing, untuk menggebrak
sebuah gedung yang telah beberapa jam sepi tak berpenghuni.
“Sampai kapan sih macet ini akan
berhenti, tiap hari begini terus bisa-bisa kita terlambat ke sekolah nie” ujar
darah manis yang sudah ngomel-ngomel sejak beberapa menit yang lalu, entah
sampai kapan dia akan berhenti megomel,
sudah seperti burung beo, yang lama tidak diberi makan oleh majikanya.
“Sabar donk Kas, namanya juga kota
metropolitan, gak kerenlah kalau gak macet” jawab sesosok manusia yang sudah
siap menekan gas mobilnya. Tanpa ada aba-aba dia langsung saja menginjak gas
mobilnya dengan kuatnya hingga membuat Kasih terpental ke depan.
“Sialan loe Don”. Kasih mulai
mengomel lagi kepada Donny yang notabennya adalah teman dekat Kasih. Sebenarnya
sudah sejak lama Donny menyukai Kasih, dia sangat tertarik dengan kepribadian
yang di miliki Kasih, tapi dia tak pernah memiliki keberanian untuk menumpahkan semua yang ada dilubuk hatinya
kepada Kasih.
***Sejak
pertama melihat Kasih dia langsung tertarik untuk bisa dekat dengan Kasih,
waktu itu sempat ia ingin memberi tahukan semuannya tapi terhalang oleh sebuah
keadaan, keadaan yang sebenarnya bisa di handel tapi dia tak ingin mengganggu
Kasih. Angin malam bertiup halus di pelabuhan hitam yang amat mengguga mata,
bintang berkelip terang menambah
keindahan malam yang awalnya senyap kini berubah menjadi kemilau mutiara di
balik timbunan awan hitam, sesosok pria berambut zikjak melangkahkan kakinya
kedepan sebuah gerbang yang terkurung rimbunnya pohon-pohon bambu yang tersusun
rapi di depan gerbang sebuah rumah yang megah nan eksotis, pria itu memencet
bel yang ada di gerbang. Kasih yang kalah itu sedang santai di halaman depan
memandangi kilauan bintang, langsung terpental dari tempat awal di mana dia
tertegun anggun.
“Siapa sih malam-malam datang kayak
gak ada waktu lain aja, mana lagi tuh Pak Jono, mau makan gaji buta aja tu
orang” sambil berjalan dia terus saja ngomel-ngomel tak jelas, sialnya lagi tu
bel masih tetap saja bunyi, apa gak tau ya kalau yang punya rumah ngomel-ngomel
terus, ups........ mana mungkin benda mati tau diri, ada-ada saja.
“Siapa sih gak tau aturan
malam-malam gini masih bertamu di rumah orang, ingat waktu donk,” sambil
membukakan pintu gerbang yang memapar panjang dihadapannya. “Donny??? Ngapain
loe malam-malam datang kesini, kalau ada yang mau di bicarakan besok saja, aku capek
nie,” kurang ajar sih Kasih mengusir
orang yang ingin bertamu di rumahnya, tapi itulah dia gak mau kalau apa yang
sedang ia kerjakan terganggu dengan hal-hal yang menurutnya tidak penting, tapi
justru itu yang bisa membuat Donny kepincut kepada Kasih, besarnya cinta Donny kepada
Kasih tak bisa terukur dengan segala apa yang ada di muka bumi ini, bahkan dia
rela melakukan apa saja untuk Kasih.
“Tega bener si loe Kas, aku uda
jauh-jauh datang kesini untuk ketemu sama kamu eh mala kamu usir,” cowok
bertampang oriental ini terkulas lesu, mukanya mulai memucat, bibirnya mulai
menggigil, telinganya sudah kaku mendengar perkataan wanita yang sangat ia
cintai itu. Nyalinya mulai menciut untuk mengungkapkan rasa cintanya kepada
Kasih.
“Cepetan mau ngomong apa, aku capek
banget mau tidur nie, aku kasih kamu waktu 5 menit cepet ngomong,”
“Hmmm…Kas...., sebenernya??,” Donny
sangat gugup sekali, tiba-tiba saja badannya menggigil, bulu kuduknya terangkat
kuat, semua pori-pori yang yang ada di tubuhnya menganga siap menampung air keringatnya yang mulai bercucuran,
padahal malam ini sangat dingin, tapi Donny malah mengeluarkan keringat yang
lumayan deras, dan sialnya lagi Kasih sama sekali tidak menawarkan Donny untuk minum secangkir teh hangat untuk Donny yang sudah sejak tadi
menahan haus karna takut kalau dia minum dulu dari rumah bisa-bisa di ngompol
di celana saat ingin mengungkapkan cintanya kepada Kasih, boro-boro teh hangat, dipersilakan masuk saja tidak, memang
tidak punya rasa kasihan tuan rumah yang
satu ini, padahal pepatah sudah mengatakan bahwa tamu adalah raja, ya walau pun pepatah itu
bukan untuk tamu melainkan pembeli, ya tapi bisa juga sih di gunakan pepatah
yang satu ini.
“Cepetan, ini
sudah lebih dari 3 menit, waktu kamu tinggal 1,2 menit lagi, cepetan,” Kasih
memburu-buru Donny untuk segera bicara tapi Donny tetap saja gugup dan tak bisa
mengeluarkan sepatah kata pun, “ tet…. Waktu kamu sudah habis, sekarang
sebaiknya kamu pulang saja, aku capek banget, kalau ada yang mau diomongin besok saja deh di sekolah,”
Dengan
teganya Kasih mengusir Donny yang rela di jadikan kacung semasa SMP dulu, dan
kini sampai SMA dia juga rela masuk ke sekolah yang sebenarnya bukan sekolah
yang ia inginkan, ia lebih suka masuk STM, Donny sangat suka membongkar-bongkar
mesin, memperbaiki benda-benda yang rusak, bahkan karna kecintaannya kepada
mesin ia berhasil menciptakan benda-benda yang sederhana menjadi bernilai ekonomis
tinggi, prestasinya sangat banyak dibidang mekanika, dia pernah menciptakan
robot yang bisa dihandalkan untuk menjaga rumah, robot itu berfungsi apabila
ada seseorang yang masuk kewilayah dia berada, dia akan mensensor wajah si tamu
dan mengirimkan data sensoran itu ke komputer Donny, jadi Donny bisa tau siapa
yang datang, tamu itu tidak diharapkan kedatangannya maka robot itu akan
memberikan aliran listrik ke tubuh si tamu, selain bekerja sebagai pendeteksi,
robot ini juga bisa dihandalkan untuk menyiram tanaman dan memotong rumput,
hanya saja kesempurnaan dari robot itu belum bisa Donny lakukan, hanya tinggal
memodifikasi sedikit lagi saja, robot itu akan selesai, tapi sayang ia lebih
memilih untuk tidak melanjutkan proyeknya itu karna Kasih tak menyukai hasil
karyanya, Kasih sangat benci dengan robot-robot seperti itu karna baginya itu
hanyalah mainan anak-anak., dan yang memainkannya juga akan menjadi anak-anak
dipandangan Kasih, demi Kasih Donny rela mengubur semua cita-citanya. Donny
tidak mau jauh dari Kasih dia pun rela memupuskan impiannya itu, baginya tak
ada yang lebih penting selain Kasih, meski Kasih selalu cuek kepadanya. Dengan
rasa menyesal pria yang gaga itu
melangkahkan kakinya berbalik arah dari tempat awal dia berdiri, sesekali ia menatap
kebelakang berharap Kasih memanggilnya dan merubah pikirannya, tapi sayang
wanita yang ia cintai itu berlalu cepat sekali, dan hanya pintu gerbang yang
tertata tinggi itu yang bisa ia lihat, karna kesal tak bisa menyatakan cintanya
kepada Kasih dia menendang apa saja yang menghalangi jalannya, tanpa sengaja
benda yang ia tendang terkena sepasang
kekasih yang sedang duduk berdua-duaan di belakang pepohonan, karna takut Donny
lari terbirit-birit dan lenyap seketika dari halaman rumah Kasih.
